Rabu, 23 Desember 2009

BAGAIMANA GAUTAMA WAFAT

oleh : Y.M. Bhikkhu Mettanando



Bagian Satu

Saat Waisak, kita diberitahu bahwa hari itu juga merupakan hari Buddha mencapai Parinibbana.
Namun tidak banyak yang tahu bagaimana Buddha wafat.
Teks-teks kuno menganyam dua kisah kemangkatan Buddha.
Apakah kemangkatan itu sudah direncanakan dan diinginkan Buddha ataukah itu
merupakan keracunan makanan, atau sesuatu yang lain sama sekali ?
Inilah kisahnya.
----------------------------------------------------------------------------

Mahaparinibbana Sutta, bagian dari khotbah panjang Tipitaka Pali tidak diragukan lagi merupakan sumber yang paling dapat diandalkan untuk detil kemangkatan Siddhattha Gotama ( 563-483 SM ), Buddha. Sutta ini ditulis dalam gaya narasi yang mengijinkan pembaca untuk mengikuti cerita tentang hari-hari terakhir Buddha, dimulai beberapa bulan sebelum Beliau wafat.

Walaupun begitu, memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada Buddha bukanlah hal yang sederhana. Sutta atau khotbah tersebut melukiskan dua kepribadian Buddha yang saling bertolak belakang, yang satu mengesampingkan yang lain.

Kepribadian pertama adalah seorang berkesaktian yang mengirim diri dan sekumpulan bhikkhu yang menyertai-Nya menyeberangi Sungai Gangga ( D II, 89 ), yang dengan mata batin melihat para dewa tinggal di dunia ( D II, 87 ), yang dapat hidup terus hingga akhir dunia dengan syarat ada yang mengundang Beliau untuk melakukannya ( D II, 103 ), yang menentukan waktu kemangkatan-Nya sendiri ( D II, 105 ), dan yang kemangkatan-Nya dimuliakan oleh hujan bunga surgawi, bubuk cendana, dan musik surgawi ( D II, 138 ).

Kepribadian yang satu lagi adalah seorang lanjut usia yang bermasalah kesehatan ( D II, 120 ), yang hampir saja mangkat karena rasa sakit yang amat sangat saat retret musim hujan terakhir-Nya di Vesali ( D II, 100 ), dan yang terpaksa harus menghadapi sakit yang tidak diharapkan serta kemangkatan-Nya setelah mengonsumsi hidangan spesial yang dipersembahkan penjamu-Nya yang dermawan.

Dua kepribadian ini muncul bergiliran di berbagai bagian dari naratif tersebut. Selain itu, ternyata juga ada dua penjelasan mengenai sebab kemangkatan Buddha :
Yang pertama, Buddha wafat karena pengiring Beliau, Ananda, gagal memohon Beliau untuk hidup hingga akhir dunia atau bahkan lebih lama dari itu ( D II, 117 ).
Yang Kedua adalah Beliau mangkat karena penyakit yang tiba-tiba diderita-Nya usai makan apa yang dikenal sebagai "Sukaramaddava" ( D II, 127-157 ).

Kisah pertama mungkin merupakan legenda atau hasil dari pergumulan politik dalam komunitas Buddhis selama tahap transisi, sedangkan kisah kedua terdengar lebih realistik dan akurat dalam menggambarkan situasi kehidupan nyata yang terjadi pada hari-hari terakhir Buddha.

Sejumlah studi memfokuskan sifat dasar hidangan spesial yang dikonsumsi Buddha saat santap terakhir-Nya sebagai penyebab kemangkatan Beliau. Tetapi, masih ada pendekatan lain yang berdasarkan pada deskripsi tentang gejala-gejala dan tanda-tanda yang diberikan dalam sutta, yang dapat diberikan titik terang oleh pengetahuan medis modern dapat.

Dalam sebuah lukisan dinding di Wat ( Vihara ) Ratchasittharam, Buddha sudah mendekati ajal, namun Beliau masih menyempatkan diri menjawab pertanyaan-pertanyaan petapa Subhadda, seorang convert ( orang yang beralih keyakinan ) terakhir Beliau, yang setelah diterima ke dalam Ordo Buddhis, menjadi seorang Arahat.


Apa Yang Kita Ketahui

Dalam Mahaparinibbana Sutta, kita diberitahu bahwa Buddha tiba-tiba jatuh sakit usai makan hidangan spesial, Sukaramaddava, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai "daging babi lunak", yang telah disiapkan penjamu dermawan-Nya, Cunda Kammaraputta. Nama masakan itu telah menarik perhatian banyak sarjana dan menjadi fokus penelitian akademis tentang sifat dasar makanan itu atau bahan-bahan baku yang digunakan untuk memasak hidangan spesial tersebut.

Sutta itu sendiri selain menyediakan detil-detil yang berkaitan dengan tanda-tanda dan gejala-gejala penyakit Beliau, juga menyertakan beberapa informasi yang dapat diandalkan mengenai keadaan Beliau selama empat bulan sebelumnya dan detil-detil itu juga penting secara medis. Sutta itu dimulai dengan rencana Raja Ajatasattu untuk menaklukkan kerajaan saingannya, yaitu kerajaan Vajji.

Buddha telah menempuh perjalanan ke Vajji guna memasuki retret musim hujan terakhir Beliau. Selama retret itulah Beliau jatuh sakit. Gejala-gejala penyakit itu adalah rasa sakit tiba-tiba yang sangat sakit sekali.

Namun, sutta itu tidak menyediakan penjelasan tentang lokasi dan ciri-ciri sakit Beliau. Sutta itu hanya menyinggung sekilas penyakit Beliau dan mengatakan rasa sakit itu sangat parah dan hampir saja merenggut ajal-Nya.

Selanjutnya, Buddha dikunjungi Mara, Dewa Kematian, yang mengundang Beliau untuk mangkat. Buddha tidak seketika menerima undangan itu. Hanya setelah Ananda, pengiring Beliau, gagal mengenali petunjuk-Nya akan permohonan untuk tetap hidup, maka Beliau pun mangkat.

Sepotong pesan ini, kendati dikaitkan dengan mitos dan supranaturalisme, memberikan kita beberapa informasi yang penting secara medis. Saat sutta itu ditulis, penulisnya berada dalam kesan bahwa Buddha wafat bukan karena makanan yang telah Beliau makan, melainkan karena Beliau memang sudah ada penyakit yang serius, akut, dan yang memiliki gejala-gejala yang sama dengan penyakit yang pada akhirnya membuat Beliau wafat.


Waktu Kejadian.

Umat Buddha tradisi Theravada berpegang pada asumsi bahwa Buddha historis mangkat di malam purnama bulan Visakha penanggalan Lunar ( yan jatuh antara bulan Mei - Juni ). Namun, waktu kejadian tersebut bertolak belakang dengan informasi yang diberikan dalam sutta, yang secara jelas menyatakan bahwa Buddha wafat seusai retret musim hujan, kemungkinan besar adalah pada musim gugur atau pertengahan musim dingin, yaitu antara bulan November hingga Januari.

Deskripsi tentang mujizat mekarnya daun dan bunga pepohonan Sala yang bukan pada musimnya pada saat Buddha dibaringkan di antara pepohonan Sala itu, menunjukkan periode waktu yang diberikan dalam sutta. Musim gugur dan musim dingin, justru merupakan musim yang tidak bersahabat untuk pertumbuhan jamur, yang diyakini beberapa sarjana sebagai sumber dari racun yang Buddha makan saat santap terakhir Beliau.

Bagian Dua

Diagnosa

Sutta itu memberitahukan kita bahwa Buddha jatuh sakit seketika setelah makan Sukaramaddava. Karena kita sama sekali tidak tahu sifat dasar makanan ini, maka sangat sulit untuk menyebutnya sebagai penyebab langsung penyakit Buddha. Namun dari deskripsi yang telah diberikan, diketahui bahwa serangan penyakit itu sangat cepat.

Saat makan, Beliau merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan makanan itu dan segera menyarankan penjamu-Nya agar mengubur makanan itu. Tidak lama kemudian, Beliau mengalami sakit perut yang sangat parah dan mengelurkan darah dari rektum-Nya.

Masuk akal untuk kita asumsikan bahwa penyakit itu dimulai ketika Beliau sedang makan, sehingga membuat-Nya berpikir ada sesuatu yang tidak beres dengan makanan yangtidak familiar itu. Karena kasih sayang-Nya terhadap yang lain, maka Beliau sarankan agar makanan itu dikubur.

Apakah keracunan makanan yang menjadi penyebab sakit itu ? Sepertinya bukan. Gejala-gejala yang dideskripsikan tidak mengindikasikan keracunan makanan, yang bisa sangat akut, tapi tidak akan menimbulkan mencret darah.

Biasanya, keracunan makanan yang disebabkan bakteri tidak akan bereaksi secepat itu, tapi butuh waktu inkubasi sekitar dua hingga dua belas jam untuk menampakkan diri, normalnya dengan mencret yang akut dan disertai muntah-muntah, tapi tidak dengan buang air besar darah. Kemungkinan lain adalah keracunan kimia, yang juga berefek seketika, tapi tidak lazim bagi keracunan kimia untuk menimbulkan pendarahan usus yang parah.

Keracunan makanan yang berdampak pendarahan usus langsung hanya bisa disebabkan oleh bahan kimia yang korosif seperti asam yang sangat keras, yang dapat dengan mudah sekali menimbulkan penyakit yang seketika. Tapi bahan kimia yang korosif seharusnya menimbulkan pendarahan pada usus bagian atas, yang kemudian mengakibatkan muntah darah. Tak satu pun gejala berat ini disebutkan dalam teks tersebut.

Penyakit-penyakit yang digolongkan ke dalam radang lambung juga bisa dicoret dari daftar kemungkinan penyakit. Terlepas dari fakta bahwa serangan mereka bersifat seketika, penyakit-penyakit ini jarang disertai kotoran ( feces ) berdarah. Peradangan pada lambung yang disertai pendarahan usus menghasilkan kotoran berwarna hitam manakala radang menembus pembuluh darah. Tukak pada saluran pencernaan yang lebih ata akan lebih mungkin mewujudkan diri sebagai muntah darah, bukan mencret darah melalui rektum.

Bukti lain yang menentang kemungkinan ini adalah seorang pasien dengan radang besar pada lambung biasanya akan kehilangan nafsu makan. Dengan menerima undangan makan siang bersama sang penjamu, kita bisa berasumsi bahwa Buddha merasa sesehat yang dirasakan insan mana pun yang berada di awal usia 80-nya.

Karena usia Beliau, kita tidak bisa menghilangkan kemungkinan Buddha tidak mengidap penyakit kronis seperti kanker, TBC, ataupun infeksi tropis seperti disentri atau tipus, yang sangat lazim di jaman-Nya. Penyakit-penyakit ini bisa mengakibatkan pendarahan pada usus bagian bawah, tergantung lokasi mereka. Penyakit-penyakit ini juga sejalan dengan sejarah penyakit yang diderita Beliau selama retret musim hujan.

Namun penyakit-penyakit ini bisa dicoret, karena mereka biasanya disertai gejala-gejala lain seperti : lesu, hilang nafsu makan, berkurangnya berat badan, melebarnya daerah abdomen. Tak satu pun dari gejala-gejala ini disebutkan dalam sutta.

Wasir besar bisa menimbulkan pendarahan hebat di sekitar daerah pembuangan, namun, sepertinya wasir mustahil dapat mengakibatkan rasa sakit yang dahsyat pada bagian perut, kecuali ia tersumbat. Tapi jika memang demikian kejadiannya, wasir itu akan sangat mengganggu perjalanan Buddha menuju rumah penjamu-Nya dan jarang sekali pendarahan wasir dipicu oleh makanan.

Bagian Tiga


Mesenteric Infarction

Penyakit yang cocok dengan gejala-gejala yang telah dideskripsikan -- yang disertai rasa sakit hebat pada perut dan mencret darah, lazim ditemukan pada orang lanjut usia, dan dipicu oleh makanan -- adalah mesentericinfarction terganggunya jaringan pembuluh darah sekitar usus ), yang disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah di mesentery.

Penyakit ini sangat mematikan. Mesenteric ischaemia akut ( berkurangnya suplai darah ke mesentery ) merupakan suatu kondisi gawat dengan tingkat kematian yang tinggi.

Mesentery adalah bagian dinding usus yang mengikat seluruh saluran usus pada rongga perut. Terganggunya jaringan pembuluh darah sekitar usus ( an infarction of the vessels of the mesentery ) biasanya menyebabkan kematian jaringan dalam jumlah besar di saluran usus, yang kemudian mengakibatkan luka pada dinding usus.

Ini normalnya menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat di perut dan mencret darah. Pasien biasanya meninggal karena kehilangan banyak darah. Kondisi ini cocok dengan informasi yang diberikan dalam sutta. Ini ditegaskan kemudian saat Buddha meminta Ananda untuk pergi mengambilkan air untuk Beliau minum, menunjukkan rasa haus yang amat sangat.

Sebagaimana disebutkan dalam kisah itu, Ananda menolak, karena ia tidak melihat adanya sumber air yang bersih. Ananda berargumen dengan Buddh bahwa kali di dekat situ telah dibuat keruh oleh satu rombongan besar gerobak. Tapi Buddha tetap minta Ananda pergi mengambilkan air.

Satu pertanyaan muncul di poin ini : Mengapa Buddha tidak pergi saja sendiri ke air itu, malah mendesak pengiring-Nya yang enggan untuk melakukannya ?

Jawabannya sederhana saja.
Buddha sedang mengalami shock karena kehilangan banyak darah. Beliau tidak mampu jalan lagi dan dari situ hingga ke ranjang kemangkatan-Nya, kemungkinan besar Beliau ditandu.

Jika memang demikian kejadiannya, sutta itu bungkam mengenai perjalanan Buddha menuju ranjang kemangkatan-Nya, mungkin karena si penulis merasa ini akan memalukan Buddha.

Secara geografis, kita tahu jarak antara tempat yang diyakini sebagai rumah Cunda dengan tempat Buddha wafat adalah sekitar 15-20 Km. Adalah mustahil bagi pasien yang sedang menderita sakit yang demikian hebat untuk jalan sejauh itu. Yang lebih memungkinkan adalah Buddha ditandu sekelompok buku ke Kusinara Kushinagara ).

Yang tetap menjadi poin perdebatan adalah :
Apakah Buddha benar-benar bertekad untuk mangkat di kota ini, yang secara nalar dapat diperkirakan tidak lebih besar dari sebuah kota kecil. Dari arah perjalanan Buddha, sebagaimana diberikan dalam sutta, Beliau bergerak ke arah utara dari Rajagaha. Bisa saja Beliau tidak ingin wafat di sana, melainkan di kota kelahiran-Nya, yang memerlukan waktu sekitar tiga bulan untuk mencapainya.

Dari sutta, jelas sudah Buddha tidak mengantisipasi penyakit dadakan-Nya, karena jika tidak, Beliau tidak akan menerima undangan penjamu-Nya. Kusinara mungkin merupakan kota terdekat di mana Beliau dapat menemukan dokter untuk merawat-Nya. Tidak sulit untuk melihat sekelompok bhikkhu sedang jalan tergesa-gesa membawa Buddha dengan tandu menuju kota terdekat untuk menyelamatkan Beliau.

Sebelum wafat, Buddha memberitahu Ananda bahwa Cunda jangan disalahkan dan bahwa kemangkatan Beliau bukan disebabkan oleh memaka Sukaramaddava. Pernyataan ini signifikan.

Makanan itu bukanlah penyebab langsung kemangkatan Beliau. Buddha tahu gejala itu merupakan ulangan pengalaman yang beliau alami beberapa bulan silam, yang hampir saja merenggut ajal-Nya. Sukaramaddava, baik bahan baku ataupun cara masaknya, bukanlah penyebab langsung penyakit Beliau yang mendadak itu.


Perkembangan Penyakit Tersebut.

Mesenteric infarction adalah penyakit yang lazim ditemukan pada manula, disebabkan oleh tersumbatnya pembuluh darah utama yang menyuplai darah ke bagian tengah bowel -- usus halus. Penyebab yang paling umum dari penyumbatan itu adalah: degenerasi dinding pembuluh darah, superior mesenteric artery, yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat pada bagian perut, yang juga dikenal sebagai : abdominal angina keram perut ).

Secara normal, rasa sakit ini dipicu oleh makan dalam porsi besar, yang membutuhkan aliran darah yang lebih banyak ke saluran pencernaan. Seiring dengan berlanjutnya penyumbatan itu, bowel kehilangan pasokan darah yang kemudian mengakibatkan terjadinya infarction atau gangrene ( matinya pembuluh darah jaringan ) pada suatu bagian saluran usus.

Ini kemudian akan menimbulkan luka pada dinding usus, muncratlah darah yang banyak ke dalam saluran usus, dan kemudian mencret darah. Penyakit ini menjadi semakin parah manakala cairan dan isi usus merembes ke dalam rongga peritoneal sehingga menimbulkan peritonitis atau peradangan pada dinding perut.

Ini sudah merupakan kondisi yang mematikan bagi sang pasien, yang kerap meninggal karena kehilangan darah dan cairan tubuh lainnya. Jika tidak diperbaiki dengan pembedahan, penyakit ini sering berkembang menjadi septic shock karena masuknya racun-racun bakteri ke dalam aliran darah.

Bagian Empat

Analisis Retrospektif

Dari diagnosa yang telah diberikan di atas, kita dapat lebih memastikan bahwa Buddha menderita mesenteric infarction yang disebabkan oleh penyumbatan pada superior mesenteric artery. Inilah penyebab rasa sakit yang hampir saja merenggut ajal Beliau beberapa bulan lalu saat retret musim hujan terakhir-Nya.

Dengan berkembangnya penyakit itu, sebagian selaput lendir usus Beliau terkelupas dan tempat inilah yang menjadi asal muasal pendarahan tersebut. Arteriosclerosis, pengerasan dinding pembuluh darah akibat penuaan, merupakan sebab tersumbatnya pembuluh darah, penyumbatan kecil yang tidak akan mengakibatkan mencret darah, tapi merupakan gejala, yang kita kenal juga sebagai abdominal angina ( keram perut ).

Beliau mendapat serangan kedua saat sedang makan Sukaramaddava. Awalnya rasa sakit itu mungkin tidak begitu intens, tapi membuat Beliau merasa ada yang tidak beres. Curiga akan makanan itu, Beliau lalu minta tuan rumah menguburkan makanan itu sehingga yang lain tidak akan menderita karenanya.

Segera Buddha menyadari bahwa penyakit itu ternyata serius, dengan adanya mencret darah yang disertai rasa sakit yang hebat di bagian perut. Karena kehilangan banyak darah, Beliau mengalami shock. Tingkat dehidrasi atau kehilangan cairan sudah sedemikian parah sehingga Beliau tak sanggup lagi mempertahankan diri dan harus berteduh di sebuah pohon di sekitar situ.

Merasa sangat haus dan kelelahan, Beliau lalu minta Ananda pergi mengambilkan air untuk minum, walaupun tahu air itu keruh. Di sanalah Beliau pingsan hingga rombongan bhikkhu membawa diri-Nya ke kota terdekat, Kusinara, di mana ada peluang untuk menemukan dokter atau penginapan untuk memulihkan diri-Nya. Mungkin benar Buddha menjadi lebih baik setelah minum untuk menggantikan cairan tubuh-Nya yang hilang dan beristirahat di atas tandu.

Pengalaman dengan gejala-gejala yang sama memberitahu Beliau bahwa penyakit-Nya yang tiba-tiba itu adalah serangan kedua dari penyakit yang sudah ada. Beliau memberitahu Ananda bahwa makanan itu bukan penyebab penyakit-Nya dan Cunda jangan disalahkan.

Pasien yang mengalami shock, dehidrasi, dan kehilangan banyak darah biasanya merasa sangat dingin. Inilah sebabnya mengapa Beliau meminta pengiring-Nya untuk menyiapkan pembaringan yang dialasi dengan empat lembar Sanghati. Sesuai disiplin monastik Buddhis ( Vinaya ), Sanghati adalah selembar kain atau sebuah jubah ekstra yang sangat besar, seukuran kain sprei, yang diijinkan Buddha untuk dipakai para bhikkhu dan bhikkhuni pada musim dingin.

Informasi ini mencerminkan betapa dingin Buddha merasa akibat kehilangan darah. Secara klinis, tidak memungkinkan bagi pasien yang sedang dalam keadaan shock dengan rasa sakit yang hebat di bagian perut, kemungkinan besar mengalami peritonitis atau peradangan pada dinding perut, pucat, dan sedang menggigil kedinginan, untuk bisa jalan.

Kemungkinan terbesar Buddha diistirahatkan di sebuah penginapan yang terletak di kota Kusinara, di mana Beliau dirawat dan diberi kehangatan. Pandangan ini juga cocok dengan deskripsi tentang Ananda yang menangis, tidak sadarkan diri, dan berpegangan pada pintu penginapan setelah tahu Buddha akan segera wafat.

Secara normal, pasien yang menderita mesenteric infarction bisa hidup 10 s/d 20 jam. Dari sutta kita tahu Buddha wafat 15 s/d 18 jam setelah serangan itu.

Selama jangka waktu itu, para pengiring-Nya kemungkinan telah mengusahakan upaya terbaik mereka untuk menyamankan Beliau, misalnya, dengan menghangatkan kamar istirahat-Nya atau dengan meneteskan beberapa tetes air ke mulut Beliau untuk menghilangkan rasa haus-Nya yang terus-menerus, atau dengan memberikan Beliau minuman herbal.

Namun kecil sekali kemungkinannya pasien yang sedang menggigil kedinginan akan membutuhkan seseorang untuk mengipasi dirinya sebagaimana yang dideskripsikan dalam sutta. Beliau mungkin silih berganti pulih dari kondisi kelelahan sehingga memungkinkan diri-Nya untuk melanjutkan pembicaraan dengan beberapa orang.

Kebanyakan kata-kata terakhir Beliau kemungkinan benar adanya dan kata-kata tersebut dihafal dari satu generasi bhikkhu ke generasi bhikkhu lainnya hingga ditranskrip. Tapi pada akhirnya, di kepekatan malam yang semakin larut, Buddha wafat saat septic shock kedua menyerang. Penyakit Beliau berasal dari sebab-sebab yang alami ditambah usia lanjut, sebagaimana yang bisa menimpa siapa saja.


Kesimpulan

Hipotesa yang secara garis besar telah dipaparkan di atas menjelaskan beberapa kejadian dari kisah dalam sutta, sebut saja, desakan agar Ananda pergi mengambilkan air, permintaan Buddha agar ranjang-Nya dilapisi empat lembar kain, permintaan agar makanan itu dikubur, dan lain sebagainya. Hipotesa ini juga menyingkap kemungkinan lain yaitu sarana transportasi yang digunakan Buddha untuk pergi ke Kusinara dan ranjang kemangkatan-Nya.

Sukaramaddava, bagaimana pun sifat dasarnya, sepertinya bukanlah penyebab langsung penyakit Beliau. Buddha wafat bukan karena keracunan makanan. Melainkan, karena porsi makan, yang relatif terlalu besar untuk saluran pencernaan-Nya yang sudah bermasalah. Porsi makan inilah yang memicu serangan mesenteric infarction kedua yang mengakhiri hidup-Nya.


( Selesai )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar